Tampilkan postingan dengan label nafsu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nafsu. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Juni 2009

Jangan Sampai Kenyang


Berpikir itu setengah dari ibadah, sedangkan sedikit makan itu adalah ibadah. Demikianlah agama Islam memberi tuntunan kepada kita bahwa menyedikitkan makan merupakan ibadah yang sempurna. Rasa lapar dapat mengurangi dorongan dari hawa nafsu. Berpikir sendiri merupakan bagian dari sifat orang-orang yang berilmu, tetapi berpikirr sendiri diumpakan hanya sebagian dari ibadah. Lain halnya dengan rasa lapar dianggap sebagai satu ibadah penuh.
Orang yang perutnya lapar akan memperkuat otak untuk berpikir. Perut yang kenyang akan mendorong orang menjadi pemalas dan banyak tidur. Produktifitasnya rendah, karena waktunya habis karena memikirkan makan dan hatinya tidak mempunyai jiwa sosial. Rasulullah mengajarkan untuk menyedikitkan makan karena didalamnya terdapat banyak keutamaan. Hal ini dapat dilihat dengan keterangan bahwa “Barangsiapa melaparkan perutnya, maka dia kan menjadi orang besar pemikirannya dan menjadi cerdas hatinya.
Disamping itu perut lapar dapat menahan gejolak hawa nafsu. Hawa nafsu tersebut dipacu oleh adanya pengaruh syetan yang menggoda manusia untuk terus menurutkan hawa nafsunya. Tetapi dengan keutamakan lapar dapat mencegah dari tipu daya syetan yang meyesatkan. “ Sesungguhnya setan itu mengitari anak Adam melalui peredaran daranya. Maka persempitlah tempat-tempat peredaran itu dengan lapar dan dahaga”.
Ada tujuh rahasia dan keutamaan dari meyedikitkan makan yaitu :
  1. Kejernihan hati dan terangnya pandangan mata hati
  2. Hatinya menjadi lunak, sehingga dapat menikmati bermunajat kepada Allah
  3. Dapat mengendalikan hawa nafsu dan sifat sombong
  4. Dapat menahan nafsu syahwat dari perbuatan maksiat
  5. Dapat meringankan badan untuk beribadah dan bermunajat kapada Allah
  6. Mampu untuk berkonaah dan berjiwa sosial untuk membantu orang lemah
  7. Dapat mampu menahan ujian dan cobaan hidup dengan rasa tegar.
“Hendaklan kamu makan dan minum setengah kenyang, karena sesungguhnya hal itu sebagian dari kenabian” Demikianlah peringatan yang disampaikan oleh agama yang agung dan mulia.

Selasa, 09 Juni 2009

Tinggalkan Perdebatan

Barangsiapa yang meninggalkan perdebatan, padahal ia berhak untuk bedebat, maka ia akan dibuatkan sebuah rumah di surga yang tinggi. Dan barang siapa yang meninggalkan perdebatan, sedangkan ia tidak berhak untuk berdebat, maka, maka ia akan dibuatkan sebuah rumah di sebuah tempat di dalam surga.

Seorang hamba tidak akan mendapatkan kesempurnaan keimanan, sehingga dia suka meniggalkan perdebatan, sekalipun dia mersa di pihak yang benar.

Berbantah adalah menonjolkan diri terhadap ucapan orang lain dengan menampakan kekurangan dari ucapan orang lain tersebut,baik dari segi lafalnya maupun dari segi artinya. Hal ini didorong atas perasaan tinggi hati yang bertujuan untuk menampakan kelebihan dan ambisi jahat.

Dalam berbantah tidak akan lepas dari menyakiti hati orang lain, menyalakan api kemarahan, dan menimbulkan permusuhan.

Bilal bin Sa’ad berkata, “Jika pada suatu ketika melihat seorang yang banyak omongan, suka medebat, dan merasa bangga dengan pendapatnya sendiri, maka dia sudah sempurna kerugiannya.

Orang yang terlibat dalam perdebatan biasanya menginginkan agar pendapatnya selalu didengarkan, mencari-cari kelemahan lawan bicara. Hal ini dilakukan agar pendapatnyalah nanti yang akan muncul sehingga dia dianggap orang pintar dari apa yang sedang dibicarakan. Seorang pendebat akan selalu berusaha memotong pembicaraan lawan bicara agar kelihatan pendaspatnya tidak sempurna dan diangga tidak perlu didengarkan dan tidak perlu dipakai.

Syetan selalu berusaha untuk menanamkan dalih bahwa “sampaikan kebenaran walaupun hanya satu ayat”. Inilah yang menjadi dasar pendebat untuk tetap berdebat dalam rangka menyampaikan kebenaran tersebut. Tetapi sebenarnya dia telah tertipu karena hatinya menjadi keras dan diliputi hawa nafasu untuk menonjolan diri.

Salah satu cara untuk meninggalakn perdebatan adalah menanamkan keyakinan bahwa dalam berdebat itu ibarat mencari barang yang hilang. Seandaiya kita sedang mencari buku yang hilang umpamanya, tentu kita akan berprinsip bahwa buku itu tidak perlu ditemukan oleh diri sendiri, melainkan oleh teman kitapun tentu kita kan merasa senang. Begitu pula dalam berdebat tetntu kebenaran tidak perlu dihasilkan oleh pendapat sendiri, melainkan oleh lawan bicara pun tentu akan sangat berharga. Jadi prinsipnya adalah mencari kebenaran, bukan kemenangan.