Kamis, 08 April 2010

Mengutamakan Orang Lain

Sewaktu di pondok pesantren ( ribath ), Abdul Kadir dan kawan - kawannya pernah kehabisan uang. Selama 7 hari mereka tidak bisa membeli makanan. Mereka benar-benar kelaparan. Abdul Kadir berkata kepada kawan-kawannya, "Tetaplah disini, aku akan berusaha mencari makanan diluar. Jika Allah memberiku rezeki, aku akan segera kembali"
Ia lalu keluar pondok, berusaha mecari rezeki dari suatu tempat ke tempat yang lain, tetapi usahanya sia-sia. Ketika berada didepan masjid, keadaannya sudah sangat lemah, kakinya hampir tak dapat lagi menopang tubuhnya.
“Lebih baik aku tidur di dalam masjid ini. Jika Allah memang mentakdirkanku meninggal, aku akan meninggal dirumah-Nya", katanya dalam hati. Ketika ia tengah berbaring menunggu ajalnya, tiba-tiba datang seorang lelaki memasuki masjid. Lelaki itu duduk, membuka bakalnya lalu makan di dekat Abdul Kadir.
“Lelaki itu tidak mengajakku makan bersama" keluh Abdul Kadir di dalam hatinya. Nafsunya ingin segera terbang menyambar makanan itu tanpa menunggu tawaran dari si lelaki. Namun, ia bertahan. Ia merasa lebih baik mati daripada makan sebelum ditawari. "Mari makan bersamaku", ajak lelaki itu tiba-tiba. Abdul Kadir merasa senang dan segera bangkit mendekati jamuan.
"Sudah delapan hari aku dinegeri ini mencari seorang anak bernama Abdul Kadir Al Jaelani. Namun, hingga hari ini aku belum menemukannya. Ibunya menitipkan kepadaku uang 8 dinar. Bekalku telah habis, maka hari ini aku mengambil satu dinar dari uang titipan itu agar dapat meneruskan pencarianku". Abdul Kadir menunggu sampai lelaki itu selesai bicara.
"Aku Abdul Kadir Al Jaelani, orang yang selama ini kamu cari, Jelasnya. "Benarkah itu ? Kamukah Abdul Kadir Al Jaelani ?" tanyanya tak percaya. " Ya, " jawab Abdul Kadir. Setelah terdiam beberapa saat, lelaki itu kemudian berkata, "Tadi kamu adalah tamuku, namun sekarang aku menjadi tamumu. "
Setelah mereka selesai makan, Abdul Kadir berkata, "Berikanlah 7 dinar sisanya kepadaku, dan simpanlah untukmu sisa dari satu dinar yang telah kamu belanjakan" Abdul Kadir segera pulang ke pondok dan menyerahkan uang itu kepada teman-temannya, "Ambil uang ini dan belanjakanlah semuanya untuk keperluan kalian. "
Perhatikanlah zuhud dan itsar yang ditunjukkan si kecil Abdul Kadir Al Jaelani. Allah memberinya rezeki 7 dinar, namun beliau tidak menyisakan sepeser pun untuk dirinya. Semuanya ia infakkan, padahal ia sangat membutuhkan.
Sumber:

http://www.annurulkassyaaf.org/



Senin, 29 Maret 2010

Berdakwah Kepada Penguasa

Renungkanlah firman Allah kepada Nabi Musa dan Harun saat diutus menuju Fir’aun (yang artinya): ”Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah-lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thoha: 44)
Merupakan kewajiban atas para da’i untuk memperhatikan batasan-batasan syariat, dan menasehati pemimpin mereka dengan ucapan yang baik, bijak serta dengan cara yang baik pula, agar kebaikan itu bertambah banyak dan kejelekan semakin berkurang.
Dan agar da’i kepada jalan Allah bertambah, semakin giat untuk berdakwah dengan cara yang baik, bukan dengan kekerasan, menasehati para pemimpin dengan segala cara yang baik dan selamat, serta mendoakan mereka di tempat yag terpisah: semoga Allah memberi hidayah kepada mereka, menunjukkan dan membantu mereka kepada kebaikan. Dan semoga Allah menolong mereka untuk dapat meninggalkan kemaksiatan yang mereka lakukan, serta menegakkan kebenaran.
Imam Syafi’i ra. berkata: “Barang siapa menegur saudaranya dengan cara tersembunyi, maka ia telah menasehati dan menghiasinya, dan barang siapa yang menegur saudaranya dengan cara terus terang di hadapan khalayak, maka ia telah membeberkan aibnya dan menjelek-jelekkannya.”
Pada suatu saat dinyatakan kepada Mis’ar bin Qidaam rahimahullah: “Sukakah engkau kepada orang yang memberitahukanmu tentang aib/kekuranganmu? Beliau menjawab: “Bila ia menyampaikan nasehat kepadaku di tempat sunyi, maka saya akan menyukainya, dan bila ia menegurku di hadapan khalayak ramai, niscaya aku tidak akan menyukainya.”
Al Ghazali, mengomentari perkataan Mis’ar bin Qidaam dengan berkata: “Sungguh ia telah benar, karena sesungguhnya nasehat yang disampaikan di hadapan khalayak ramai adalah penghinaan.” (Ihya’ ‘Ulumuddin 2/182)
Bila hal ini berlaku pada perorangan, maka lebih pantas untuk diindahkan ketika kita hendak menyampaikan nasehat kepada para penguasa, pejabat pemerintahan, atau pemimpin suatu negara.

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang hendak menasehati penguasa dengan suatu perkara maka janganlah ia menyampaikannya secara terbuka (di hadapan umum -pen) akan tetapi hendaknya ia mengambil tangan sang penguasa dan berdua-duaan dengannya (empat mata). Jika sang penguasa menerima (nasehat) darinya maka itulah (yang diharapkan-pen), dan jika tidak (menerima) maka ia telah menunaikan apa yang menjadi kewajibannya.” (Riwayat Ahmad, At-Thobrooni, dan Ibnu Abi ‘Ashim, dan Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Zhilaalul Jannah)
Syaikh Utsaimin pernah ditanya, “Kenapa anda tidak menegur pemerintah dan menjelaskan hal itu kepada masyarakat?” Maka beliau menjawab, “…Akan tetapi nasehat telah disampaikan… sungguh demi Allah!!! Aku beritahukan kepada engkau (wahai fulan), dan aku beritahukan kepada saudara-saudaraku bahwa sikap: “Mempublikasikan sikap anda yang telah menyampaikan nasehat kepada pemerintah mengandung dua mafsadat/marabahaya:

Mafsadat pertama: Hendaknya setiap orang senantiasa mengkhawatirkan dirinya akan tertimpa riya, sehingga gugurlah amalannya
Mafsadat kedua: Bila pemerintah tidak menerima nasehat tersebut, maka teguran ini menjadi hujjah (alasan) bagi masyarakat awam untuk (menyudutkan) pemerintah. Akhirnya mereka akan bergejolak (terprovokasi) dan terjadilah kerusakan yang lebih besar.” (Dari kaset as’ilah haula lajnah al-huquq as-syar’iyah. Sebagaimana dinukil oleh Syaikh Abdul Malik Ramadani dalam Madarik an-Nazhor hal 211)
Diantara metode berdakwah kepada para penguasa ialah dengan cara mendoakannya agar mendapatkan petunjuk dari Allah Ta’ala, bukan malah mendoakan kejelekan untuknya.
Al Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Seandainya aku memiliki suatu doa yang pasti dikabulkan (mustajabah) niscaya akan aku peruntukkan untuk penguasa, karena baiknya seorang penguasa berarti baiknya negeri dan rakyat. (Siyar A’alam An Nubala’ oleh Az Dzahaby 8/434)
Seorang pengikut sunnah Nabi mestinya bergembira tatkala mengetahui bahwa metode dalam menasehati pemerintah ternyata telah dijelaskan dengan gamblang oleh Nabi SAW: “Sebaik-baik jihad adalah perkataan adil (yang diucapkan) di sisi penguasa yang jahat.” (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, At Tirmizy, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al Hakim & Al Albany)
Pada hadits ini, tidak ada sama sekali dalil yang menyebutkan bahwa penyampaian nasehat ini disampaikan di hadapan khalayak ramai, atau dari atas podium, atau yang serupa. Bahkan terdapat satu isyarat bahwa nasehat ini disampaikan secara langsung dihadapannya, oleh karena itu beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yg artinya): “di sisi/di hadapan seorang penguasa yang jahat“.
Dengan demikian hadits ini amat menyelisihi perbuatan banyak orang yang sok berpegangan dengan hadits ini, kemudian berorasi di mana-mana dengan menyebutkan berbagai kritikannya kepada pemerintah, atau dengan berdemontrasi, atau yang serupa. Sebab ia menyampaikan nasehat bukan di hadapan penguasa, akan tetapi di hadapan masyarakat, sehingga yang terjadi hanyalah kekacauan, keresahan dan jatuhnya kewibawaan pemerintah di hadapan masyarakat. Dan bila kewibawaan pemerintah telah jatuh, maka para penjahat, pencuri, perampok, dan orang jahat lainnya akan semakin berani melancarkan kejahatannya.
Seorang pengikut sunnah Nabi mestinya adalah orang yang semangat dalam menjalankan metode-metode yang diajarkan Nabi. Maka sungguh sangat menyedihkan jika kita mendapati seorang yang mengaku sebagai “Ahlus Sunnah wal Jamaa’ah” kemudian malah mencari metode-metode lain yang tidak diajarkan oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam.
Oleh karena itu sikap menghujat pemerintah baik di mimbar-mimbar atau di ceramah-ceramah atau melalui demonstrasi-demonstrasi yang dilakukan di jalan-jalan sangat bertentangan dan bertolak belakang dengan metode yang digariskan oleh Rasulullah SAW
Wallahu’alam Bishshowab
Sumber: www.muslim.or.id

Jumat, 26 Maret 2010

Cara Meningkatkan Keimanan

Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah, saat ditanya apakah iman bertambah dan berkurang.
Beliau menjawab : “Iman bertambah sampai mencapai bagian tertinggi dari surga ketujuh. Dan iman juga menurun sampai mencapai bagian terendah dari lorong-lorong tambang di perut bumi".
Begitulah Iman, banyak penyebab yang bisa menaikkannya, memperkuatnya, dan membuatnya tumbuh berkembang, sebaliknya banyak penyebab pula yang menurunkan, melemahkan dan meruntuhkannya.
Iman yang bertambah kokoh laksana akar pohon yang kuat menghunjam tanah, menopang batang yang menjulang subur, rindang, dan berbuah lebat, memberi keteduhan dan banyak manfaat. Sedangkan Iman yang turun merapuh akan mengotori jiwa, menjauhkan keadilan dan mendekati kedzaliman, menimbulkan kegersangan dan banyak kerusakan.
Selayaknyalah orang-orang beriman memperhatikan sebab-sebab naik turunnya iman, karena akan berpengaruh terhadap kemanfaatan hidupnya di dunia dan keselamatannya di akhirat kelak. Insya Allah, buku dalam genggaman anda ini dihadirkan untuk memenuhi harapan tersebut. Di dalamnya dijelaskan secara rinci penyebab naik turunnya iman pada seseorang, serta amal-amal memperkuat tumbuh dan berkembangnya iman dalam jiwa seorang muslim. Dikisahkan pula perilaku para sahabat dan salafus shalih dalam menjaga keimanannya.
Berikut ini beberapa cara yang dapat meningkatkan keimanan kita.
  1. Membaca dan merenungkan ayat-ayat Al-Qur'an. Dengan begitu akan membuat hati tenang dan damai. Untuk mendapatkan manfaat yang lebih, anggap Allah sedang berbicara dengan kita. Manusia digambarkan dalam beberapa kategori di dalam Al-Qur'an; pikirkan kategori manusia seperti apa kita.
  2. Menyadari kebesaran Allah Swt. Semuanya berada dalam kendali-Nya. Terdapat banyak tanda-tanda kebesaran-Nya yang bisa kita saksikan. Semua yang terjadi merupakan kehendak-Nya. Allah Swt. melihat dan mencatat segala sesuatu, bahkan seekor semut hitam yang berada di bebatuan hitam di dalam malam yang gelap gulita tanpa sinar bulan tetap akan terlihat dan dicatat.
  3. Berusahalah untuk menambah pengetahuan, setidaknya sesuatu yang dasar dalam hidup kita misalkan bagaimana berwudhu yang benar. Mengetahui makna di balik nama-nama Allah dalam asmaul husna. Orang yang bertaqwa adalah mereka yang berilmu.
  4. Menghadiri majelis-majelis yang di dalamnya berisi kegiatan untuk mengingat Allah. Dalam majelis seperti itu kita akan dikelilingi oleh para malaikat.
  5. Kita harus memperbanyak perbuatan baik. Satu perbuatan baik akan diikuti oleh perbuatan baik lainnya. Allah Swt. akan mempermudah jalan bagi seseorang yang melakukan perbuatan baik. Perbuatan baik harus dilakukan secara terus menerus bukan cuma sesekali saja.
  6. Kita harus takut akan kematian; mengingat mati akan membuat kita takut untuk berbuat kesenangan.
  7. Mengingat beberapa tingkatan akhirat, contohnya ketika kita di dalam kubur, ketika kita diadili atau ketika kita di surga atau neraka.
  8. Berdoa, sebagai realisasi bahwa kita membutuhkan Dia. Tundukkan diri kita dan jangan iri terdapat sesuatu yang berbau materi yang ada di dunia ini.
  9. Cinta kita kepada Allah Swt. harus ditunjukkan dalam bukti nyata. Kita mengharap Allah akan menerima semua ibadah kita, dan menghindarkan kita dari berbuat dosa. Sebelum tidur, kita harus merenungkan perbuatan baik apa saja yang telah kita lakukan pada hari ini.
  10. Menyadari dampak dari dosa dan ketidaktaatan- kadar keimanan seseorang akan meningkat dengan cara berbuat baik dan kadar keimanan kita akan menurun apabila berbuat maksiat. Semua yang terjadi merupakan kehendak-Nya. Ketika musibah menimpa kita- itupun berasal dari Allah Swt. Dan merupakan akibat langsung dari ketidaktaatan kita kepada-Nya.
Wallahu’alam Bishshowab
Sumber: http://www.Islamway.com

Selasa, 23 Maret 2010

Ketika Doa Tidak Terkabul

Daripada Abu Hurairah telah berkata : Sabda Rasulullah s.a.w yang artinya : Sesungguhnya Allah itu Maha Baik tidak menerima melainkan sesuatu yang baik. Dan Sesungguhnya Allah telah memerintah para orang yang beriman sama dengan apa yang telah Dia perintah dengannya terhadap para rasul. Maka firmanNya yang artinya : Wahai rasul-rasul makanlah kamu daripada makanan yang baik (halal)…dan firmanNya lagi yang artinya : Wahai orang-orang yang beriman makanlah kamu daripada makanan yang baik apa yang dianugerahkan kepadamu(halal)…. Kemudian Rasulullah s.a.w menyebut tentang seorang pemuda yang bermusafir dalam perjalanan yang jauh, hal rambutnya kusut masai, mukanya berrdebu di mana dia mengangkat tangan ke langit: Wahai Tuhanku…wahai Tuhanku… sedangkan makanannya haram, minumannya haram dan pakaiannya haram..Dan dia dibesarkan dengan memakan makanan haram maka bagaimana Kami mau mengabulkan doanya. (HR.Muslim)
Ibrahim bi Adham ra berkata ketika masyarakat bertanya kepadanya mengenai firman ALLAH SWT. “Berdoalah kepadaKu, niscaya akan kuperkenankan bagimu“. Mereka berkata,” Kami telah berdoa, tetapi belum juga dikabulkan“.
Maka Ibrahim r.a. menjawab, “Sebab hati kalian sudah mati dari sepuluh perkara“.
1. Kalian mengenal ALLAH SWT. tetapi kalian tidak menunaikan kewajiban-kewajibanya.
2. Kalian membaca Al-Qur’an namun kalian tidak mengamalkannya.
3. Kalian mengaku sebagai musuh syaithon tetapi kalian mengikutinya.
4. Kalian mengaku cinta kepada Rasulullah SAW namun kalian meninggalkan sunnahnya.
5. Kalian mengakui takut neraka namun kalian tidak berhenti di berbuat dosa.
6. Kalianmengakui bahwa kematian itu benar adanya namun kalian tidak bersiap-siap menghadapinya.
7. Kalian mengaku cinta syurga tetapi kalian tidak beramal untuk mendapatkannya.
8. Kalian sibuk melihat keburukan orang lain, dan lupa melihat keburukan diri kalian sendiri.
9. Kalian memakan rezeki dari ALLAH SWT tetapi kalian tidak mensyukurinya
10. Kalian mengubur mayat-mayat , namun kalian tidak mengambil pelajaran darinya.
Wallahu’alam Bishshowwab

Minggu, 21 Maret 2010

Agar Do'a Dikabulkan

Agar Do’a Dikabulkan
Inilah yang harus dilakukan agar do’a dikabulkan.
1. Memakan makanan dan memakai pakaian dari yang halal. Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: “Seorang laki-laki yang lusuh lagi kumal karena lama bepergian mengangkat kedua tanganya ke langit tinggi-tinggi dan berdoa : Ya Rabbi, ya Rabbi, sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dagingnya tumbuh dari yang haram, maka bagaimana doanya bisa terkabulkan.?” (HR. Muslim)
2. Hendaknya memilih waktu dan keadaan yang utama, seperti:
• Tengah malam, Rasulullah saw. Bersabda: Keadaan yang paling dekan antara Tuhan dan hambanya adalah di waktu tengah malam akhir. Jika kamu mampu menjadi bagian yang berdzikir kepada Allah, maka kerjakanlah pada waktu itu.” Dari Jabir berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya bagian dari malam ada waktu yang apabila seorang hamba muslim meminta kebaikan kepada Allah dan sesuai dengan waktu itu, pasti Allah mengabulkannya.” Imam Ahmad menambah: “Itu terjadi di setiap malam.” Saat sujud. Rasulullah saw. bersabda: “Dan adapun ketika sujud, maka bersungguh-sungguhlah kalian berdoa, niscaya akan diijabahi doa kalian.”
• ketika adzan. Rasulullah saw. bersabda: “Ketika seorang muadzin mengumandangkan adzan, maka pintu-pintu langit dibuka, dan doa diistijabah.”
• Antara adzan dan iqamat. Rasulullah saw. bersabda: “Doa antara adzan dan iqamat mustajab, maka berdoalah.”
• Kketika bertemu musuh. Dari Sahl bin Saad, dari Nabi saw. bersabda: “Dua keadaan yang tidak tertolak atau sedikit sekali tertotak; doa ketika adzan dan doa ketika berkecamuk perang.”
• Ketika hujan turun. Dari Sahl bin Saad dari Nabi saw. bersabda: “Dan ketika hujan turun.”
• potongan waktu akhir di hari Jum’at. Rasulullah saw. bersabda: “Hari Jum’at 12 jam tiadalah seorang muslim yang meminta kepada Allah sesuatu, kecuali pasti Allah akan memberinya. Maka carilah waktu itu di akhir waktu bakda shalat Ashar.”
• Doa seseorang untuk saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya. Dalam riwayat Imam Muslim dari Abu Darda’ berkata: “Rasulullah saw. bersabda: “Tiada seorang muslim yang berdoa bagi saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya itu, kecuali Malaikat berkata, bagimu seperti apa yang kamu doakan untuk saudaramu.” Dalam kesempatan yang lain Rasulullah saw. bersabda: “Doa seorang al-akh bagi saudaranya tanpa sepengetahuan dirinya tidak tertolak.”
• Hendaknya ketika tidur dalam kondisi dzikir, kemudian ketika bangun malam berdoa. Dari Muadz bin Jabal dari Nabi saw. bersabda: “Tiada seorang muslim yang tidur dalam keadaan dzikir dan bersuci, kemudian ketika ia bangun di tengah malam, ia meminta kepada Allah suatu kebaikan dunia dan akhirat, kecuali Allah pasti mengabulkannya.”
3. Berdoa menghadap kiblat dan mengangkat doa tangan. Dari Salman Al-Farisi berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah Maha Hidup lagi Maha Pemurah. Dia malu jika ada seseorang yang mengangkat kedua tangannya berdoa kepada-Nya, Dia tidak menerima doanya, nol tanpa hasil.”
4. Dengan suara lirih, tidak keras dan tidak terlalu pelan. Rasulullah saw. bersabda: “Wahai manusia, sesungguhnya Dzat yang kalian berdoa kepada-Nya tidak tuli dan juga tidak tidak ada / gaib.”
5. Tidak melampaui batas dalam berdoa. Allah swt. berfirman: “Berdoalah kepada Tuhan kalian dengan penuh rendah diri dan takut (tidak dikabulkan). Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang yang melampaui batas.” Al-A’raf:55. Contoh melampai batas dalam berdoa adalah minta disegerakan adzab, atau doa dalam hal dosa dan memutus silaturahim dll.
6. Rendah diri dan khusyu’. Allah swt. berfirman: “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” Al-Araf:55. Allah swt. berfirman dalam surat Al-Anbiya’:90:
7. Sadar ketika berdoa, yakin akan dikabulkan dan benar dalam pengharapan. Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Berdoalah kepada Allah, sedangkan kalian yakin akan dikabulkan doa kalian. Ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” Imam Ahmad
8. Hendaknya ketika berdoa memelas, menganggap besar apa yang didoakan dan diulang tiga kali. Ibnu Mas’ud bekata: “Adalah Rasulullah saw. jika berdoa, berdoa tiga kali. Dan ketika meminta, meminta tiga kali. Rasulullah saw. bersabda: “Jika salah satu di antara kalian meminta, maka perbanyaklah atau ulangilah, karena ia sedang meminta kepada Tuhannya.”
9. Hendaknya ketika berdoa dimulai dengan dzikir kepada Allah dan memujinya dan agar mengakhirinya dengan shalawat atas nabi saw.
10. Memperbanyak doa ketika lapang/senang. Dari Abu Darda’ berkata: “Mintalah kepada Allah pada hari di mana kamu merasa senang. Karena boleh jadi Allah mengabulkan permintaanmu di saat susah.” Dia juga berkata: “Bersungguhlah dalam berdoa, karena siapa yang memperbanyak mengetok pintu, ia yang akan masuk.”
Wallahu’alam Bishshowab

Hikmah Zakat dalam Kehidupan

Zakat memiliki banyak manfaat bagi agama, akhlak dan masyarakat yang akan kita sebutkan berikut ini:
Manfaat dari segi agama:
1. Merupakan ketaatan terhadap salah satu rukun Islam yang diatasnya terletak kemakmuran seseorang di dunia dan di akhirat.
2. Membawa hamba lebih dekat kepada Tuhannya dan meningkatkan imannya. Ini berlaku untuk semua perbuatan ibadah.
3. Apa yang keluar sebagai akibatnya adalah pahala yang besar. Allah berfirman: “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah . Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (QS Al-Baqarah [2] : 276).
Nabi SAW bersabda:
“Barangsiapa memberi sedekah dengan sebiji kurma yang diperolehnya dengan baik, karena Allah hanya menerima yang baik, sungguh Allah akan menerimanya dengan tangan kanan-Nya kemudian menumbuhkannya untuk pemiliknya sama seperti salah seorang dari kamu memelihara anak kuda sampai mencapai semisal gunung.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).
Allah menghapuskan dosa-dosa kecil dengannya, sebagaimana Nabi SAW bersabda: “Bersedekah menghapus dosa-dosa sebagaimana air memadamkan api.”
Diantara manfaatnya terhadap akhlak seseorang adalah:
1. Hal itu menjadikannya mengikuti jalan orang-orang yang dermawan yang memiliki kebaikan dan kemurahan hati.
2. Mengeluarkan zakat menjadikan seseorang untuk membentuk akhlaknya dengan sifat-sifat penyayang dan bersimpati terhadap saudaranya yang miskin, dan Allah mengasihi orang yang mengasihi orang lain.
3. Apa yang disaksikan adalah memberikan bantuan finansial dan fisik kepada kaum Muslimin menyebabkan hati menjadi terbuka dan jiwa menjadi senang. Dan hal itu menyebabkan seseorang dicintai dan dihargai sesuai dengan bantuan yang diberikan kepada saudaranya.
4. Memberikan zakat membersihkan akhlak seseorang dari kekikiran dan kesengsaraan, sebagaimana Allah berfirman: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka:” (Qs At Taubah [9] : 103).
Diantara manfaatnya bagi masyarakat adalah:
1. Zakat dapat memenuhi kebutuhan orang miskin yang merupakan bagian terbesar dari masyarakat di kebanyakan negara.
2. Zakat memperkuat kaum Muslimin dan menaikkan statusnya. Itulah sebabnya mengapa salah satu aspek yang dapat diberikan zakat adalah jihad di jalan Allah, seperti yang akan kita sebutkan nanti, insya Allah.
3. Menghilangkan sifat dengki dan iri hati fakir miskin. Hal ini karena ketika fakir miskin melihat harta yang dimiliki oleh orang-orang kaya dan tidak memberikan manfaat kepada mereka, dengan memberikan kepada mereka sedikit atau banyak, maka kemungkinan mereka akan memendam kebencian dan dendam terhadap si kaya karena mereka (orang-orang kaya –pent.) tidak memberikan hak mereka dan tidak memenuhi kebutuhan mereka. Namun ketika si kaya memberikan sebagian dari hartanya kepada mereka setiap awal tahun (yakni setelah menyimpan harta itu selama setahun), hal-hal seperti ini akan berakhir dan akan tumbuh kecintaan dan keharmonisan.
4. Mengeluarkan zakat akan menambah harta seseorang dan menambah keberkahannya, sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi SAW, dimana beliau bersabda: “Sedekah tidak mengurangi dari harta seseorang.” Hal ini berarti bahwa meskipun sedekah diambil dari harta secara jumlah, namun sesungguhnya tidak akan pernah mengambil keberkahannya atau peningkatannya di kemudian hari. Bahkan Allah akan mengganti apa yang telah diberikannya dan memberkahi hartanya.
5. Zakat adalah alat untuk menyebarkan dan membagikan harta (kepada masyarakat). Hal ini karena apabila sebagian harta dikeluarkan, cakupannya akan meluas dan banyak orang mendapatkan manfaat darinya, kebalikan dari apabila harta hanya disimpan di kalangan orang-orang kaya, karena fakir miskin tidak akan mendapatkan apa-apa darinya.
Semua manfaat dari membayarkan zakat dengan jelas menunjukkan bahwa zakat adalah sesuatu yang sangat penting dan dibutuhkan untuk memperbaikidiri seseorang dan masyarakat. Maha Suci Allah, Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Sumber: http://uchinfamiliar.blogspot.com/
 
TANBIHUL GHOFILIIN Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template